Sabtu, 07 Januari 2012

Karya Tulis Ilmiah


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
            Bahasa adalah alat utama yang langsung berhubungan dengan segi kehidupan manusia seperti berpikir, merasa, menghayati yang disampaikan seseorang dan bersangkutan paut dengan pembentukan watak manusia atau pembinaan pribadi dan sebagainya. Oleh sebab itu pengetahuan berbahasa sangat penting bagi setiap individu yang erat hubungannya dengan kehidupan pemakai bahasa dan masyarakat juga dalam pemikiran yang mengandung pengertian­-pengertian yang dihayati.
      Dalam mengungkapkan pemikiran dan perasaan seseorang harus mempunyai kemampuan berbahasa agar dapat menyampaikan sesuatu kepada orang lain baik secara lisan maupun tulisan. Itulah sebabnya berbahasa sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
     Menulis merupakan bagian dari kegiatan pokok bahasa dalam bidang studi bahasa dan sastra Indonesia, yang sudah dipelajari secara bungan mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Seorang penulis harus mampu menggunakan bahasa yang baik dan untuk menyampaikan ide yang akan disampaikan kepada pembaca. Dengan bahasa yang baik, maka pembaca akan tertarik dan mudah memahami app ide yang disampaikan oleh penulis
Dalam berbicara tentang menulis untuk banyak faktor atau kriteria yang harus diperhatikan. Salah satunya yang dimaksud adalah paragraf.
Sebuah paragraf memerlukan banyak proses penyusunan seperti yang terdapat dalam suatu keseluruhan tulisan meskipun dalam ruang lingkup yang terkecil, sama halnya dengan sebuah tulisan.
Untuk itu melalui paragraf-paragraf kita dapat suatu efek lain, yaitu kita bisa membedakan dimana suatu tema mulai dan berakhir dapat kita bayangkan, apabila kita membaca sebuah yang sama sekali tidakmemberikan pembagian atas paragraf-paragraf. Kita kesulitan menghadapi seluruh buku itu, kita seorang yang dipaksa untuk membaca terus sampai selesai sehingga sulit untuk mengadakan konsentrasi pikiran dan suatu gagasan kegagalan yang lain. Itulah sebab kita, seolah-olah di cambuk untuk membaca terus tanpa istirahat sampai selesai lain halnya dalam buku itu sudah diberi pembagian atas paragraf-paragraf kita akan berhenti sebentar seolah sebuah paragraf berakhir.

B. Tujuan Karya Tulis
            Tujuan karya tulis merupakan hal yang sangat penting dalam menyusun karya tulis. Adapun tujuan karya tulis ini adalah untuk mengetahui kesulitan-kesulitan yang dialami siswa dalam membuat paragraf.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Paragraf
Menuangkan buah pikiran secara teratur dan terorganisasi kedalam sebuah tulisan sehingga pembaca dapat mengikuti dan memahami jalan pikiran seseorang, tidaklah mudah. Banyak orang yang fasih berbicara, namun kurang mampu menerangkan gagasannya secara tertulis. Kalaupun ahli-ahli bicara itu mampu menuliskan gagasannya dengan baik, biasanya hal itu terjadi sesudah melalui latihan yang intensif, baik secara formal maupun non formal. Hal ini wajar karena kemampuan menulis merupakan hash proses belajar dan ketekunan berlatih. Dalam tulis-menulis atau karang-mengarang, ikatan ini dilahirkan dalam bentuk paragraf. Apakah sebenarnya paragraf itu ? Agar lebih jelas maka penulis akan memberikan beberapa pendapat para ahli tentang pengertian paragraf. (Akhadiah dkk., 1988: 144)
            Paragraf merupakan inti penuangan buah pikiran dalam sebuah karangan. Dalam paragraf terkandung satu unit buah pikiran yang didukung oleh sebuah kalimat dalam paragraf tersebut, kalimat-kalimat penjelas sampai pada kalimat penutup.  Aripin dan Amran Tasai, 1989: 125)
            "Paragraf adalah seperangkat kalimat yang membicarakan suatu gagasan atau topik. Paragraf merupakan kalimat-kalimat yang memperlihatkan kesatuan pikiran kalimat-kalimat yang berkaitan dalam membentuk gagasan atau topik tersebut" (Tarigan, 1985 : 11)
            "Paragraf adalah seperangkat kalimat tersusun logis sistematis yang merupakan satu kesatuan ekspresi pikiran yang relevan dan engandung pikiran pokok yang tersirat dalam keseluruhan karangan".
Dari pendapat di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa paragraf adalah suatu tulisan kecil yang berisi seperangkat kalimat yang saling berhubung dan berisi sebuah topik yang dikembangkan dengan beberapa kalimat penjelas.
Berdasarkan pengertian-pengertian yang telah penulis tuangkan di atas tadi, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sebuah paragraf didalamnya terdapat.
1.   Satu topik / gagasan utama
Adalah satu kalimat yang mendukung pikiran pokok atau pikiran utama di dalam paragraf.
2.  Beberapa pikiran penjelas
Adalah kalimat penjelas harus memenuhi ciri kejelasan. Maksudnya kalimat yang berisi uraian yang bersifat mendetail.
3. Hubungan antara kalimat utama dengan kalimat penjelas harus relevan.
Adalah di dalam suatu paragraf antara kalimat utama dengan kalimat penjelas tidak boleh terdapat unsur yang membuat ketidak jelasan pada paragraf. Karena sebuah paragraf harus memenuhi kesatuan agar dapat dimengerti dan dipahami dengan jelas.
            Ketiga poin yang dikandung sebuah paragraf tersebut, haruslah merupakan kesatuan yang utuh dan bulat, haruslah saling bersautan satu sama lain. Antara kalimat utama atau kalimat topik dengan kalimat penjelas harus sinkron.

B. Tujuan Paragraf
            Memudahkan pengertian dan pemahaman dengan memisahkan suatu tema dari tema yang lain. Oleh karenanya, setiap paragraf boleh mengandung satu tema. Memisahkan dan menegaskan perhatian secara wajar formal untuk memunginkan kita berhenti lebih lama dari pada akhir kalimat. Dengan perhentian yang lebih lama konsentrasi terhadap tema paragrapf lebih terarah.

C. Syarat-Syarat Pembentukan Paragraf
            Dalam pengembangan paragraf, kita harus menyajikan dan mengotganisasikan gagasan menjadi suatu paragraf yang memenuhi persyaratan-persyaratan itu ialah kesatuan, kepaduan dan kelengkapan.
a. Kesatuan
Tiap paragraf hanya mengandung satu gagasan pokok atau satu pokok. Fungsi paragraf ialah mengembangkan topik. Oleh sebab itu, dalam mengembangkan tidak boleh terdapat unsur-unsur yang sama sekali tidak berhubungan dengan topik atau gagasan pokok tersebut, penyimpangan atau menyulitkan pembaca. Jadi, satu paragraf hanya boleh mengandung satu gagasan pokok atau topik. Semua kalimat dalam paragraf harus membicarakan gagasan pokok tersebut.
Paragraf dianggap mempunyai kesatuan. Jika kalimat-kalimat dalam paragraf itu tidak terlepas dari topiknya atau relevan dengan topik. Kalimat terfokus pada topik dan mencegah masuknya hat-hat yang tidak relevan. Penulis yang masih dalam taraf belajar (tahap pemula) sering mendapat kesulitan dalam memelihara kesatuan ini.

b. Kepaduan
Satu paragraf bukanlah merupakan kumpulan atau tumpukkan kalimat yang masing-masing berdiri sendiri atau terlepas, tetapi dibangun oleh kalimat-kalimat yang mempunyai hubungan. Timbal batik pembaca dapat dengan mudah memahami dan mengikuti jalan pikiran penulis tanpa hambatan karena adanya loncatan pikiran yang membingungkan. Urutan pikiran yong teratur, akan memperlihatkan adanya kepaduan. Jadi kepaduan atau koherensi dititik beratkan pada hubungan antara kalimat-­kalimat.
Kepaduan dalam sebuah paragraf dibandun dengan memperhatikan:
1. Unsur kebahasan yang digambarkan dengan
a. Reposisi atau pengulangan kata kunci.
b. Kata ganti
c. Kata transisi atau ungkapan penghubung dan
d. Paralelisme.
2. Pemerincian dan urutan isi paragraf
Bagaimana cara mengembangkan pikiran utama menjadi sebuah paragraf dan bagaimana hubungan antara pikiran utama perinciannya. Perincian ini dapat diurutkan secara kronologi (menurut unitan waktu), secara logis (sebab-akibat, akibat-sebab khusus umum, umum - khusus), menurut urutan- ruang (spasial), menurut proses, dan dapat juga dari sudut pandang yang satu kesudut pandang yang lain.

c. Kelengkapan
Suatu paragraf dikatakan lengkap, jika berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup untuk menunjang kejelasan kalimat topik atau kalimat utama. Sebaliknya suatu paragraf dikatakan tidak lengkap pengulangan-pengulangan.

D. Macam-Macam Paragraf
            Berdasarkan tujuannya, paragraf  dapat dibedakan menjadi paragraf pembuka, penghubung dan penutup.
a. Paragraf pembuka
            Paragraf pembuka berperan sebagai pengantar untuk sampai kepada masalah yang akan diuraikan. Sebab itu paragraf pembuka harus menarik minat dan perhatian pembaca kepada masalah yang diuraikan. Paragraf pembuka ini jangan terlaiu panjang supaya tidak membosankan.
b. Paragraf penghubung
Masalah yang diuraikan terdapat dalam paragraf penghubung. Paragraf penghubung berisi inti persoalan yang dikemukakan, oleh sebab itu secara kuantitatif paragraf ini yang paling panjang, dan antara paragraf dengan paragraf harus saling berhubungan secara logis.
c. Paragraf penutup
Paragraf penutup mengakhiri sebuah karangan, biasanya paragraf ini berisi kesimpulan dari paragraf penghubung. Dapat jugs paragraf penutup berisi penegasan kembali mengenai hal-hal yang dianggap penting dalam paragraf penghubung. Paragraf penutup yang berfungsi mengakhiri sebuah karangan tidak boleh terlalu panjang. Namun, tidak berarti paragraf ini dapat tiba-tiba diputuskan begitu saja. Jadi, seorang penulis harus dapat menjaga pemban ngan antara paragraf pembuka, penghubung dan penutup.
4. Pengembangan Paragraf
Keraf, (1989 67) menyatakan pengembangan paragraf adalah penyusunan atau perincian dari pada gagasan yang membina paragraf itu.
Dari pendapat diatas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa paragraf yang baik dan efektif harus memperhatikan pengembangan paragraf. Pengembangan paragraf harus dijaga agar jangan mengambang kesuatu arch yang tidak relevan untuk menjelaskan gagasan pokok.

BAB III
PENUTUP

A.          Kesimpulan
                Berdasarkan uraian diatas pembahasan dapat disimpulkan bahwa paragraf adalah suatu tulisan kecil yang berisi seperangkat kalimat yang saling berhubungan dan berisi sebuah topik yang dikembangkan dengan beberapa kalimat penjelas.

B.     Saran
                Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan diatas hal yang perlu diajukan sebagai saran yaitu :
Siswa harus lebih giat lagi dalam membuat paragraf.

Strategi Pembelajaran


Definisi Istilah dalam Strategi Pembelajaran
Definisi Istilah dalam Strategi Pembelajaran
Belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi, ketrampilan, dan sikap. Belajar dimulai sejak lahir sampai akhir hayat. Pada usia bayi, ia mempelajari dan menguasai ketrampilan-ketrampilan sederhana, seperti memegang botol dan mengenal orang-orang di sekelilingnya. Menginjak masa kanak-kanak sampai remaja, sejumlah sikap, nilai, dan ketrampilan berinteraksi social dicapai sebagai kompetensinya. Pada saat dewasa, individu diharapkan telah mahir dengan tugas-tugas kerja tertentu dan ketrampilan-ketrampilan fungsional lainnya, seperti mengendarai motor, mobil, berwiraswasta, serta menjalin kerjasama dengan orang lain. Belajar (learning) dapat pula dikatakan sebagai kebiasaan dan pengetahuan yang berkembang sebagai hasil dari pengalaman individu saat memasuki dan menyesuaikan diri dalam lingkungan tertentu.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, belajar memiliki arti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Sedangkan menurut Hilgard dan Bower (Fundyartanto, 2002) belajar memiliki arti memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, menguasai pengalaman, dan mendapatkan atau menemukan informasi. Morgan (1986) mendefinisikan belajar sebagai perubahan tingkah laku yang relative tetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku. Ada perbedaan antara belajar dalam pandangan ahli psikologi dengan ahli pendidikan. Bagi ahli psikologi, belajar diartikan sebagai perubahan tingkah laku tanpa memandang adanya hasil yang baik ataupun yang buruk. Sedangkan menurut ahli pendidikan belajar hanya diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang sesuai dengan tujuan positif yang ingin dicapai.
Adapun cirri-ciri belajar adalah; (1) adanya perubahan tingkah laku; (2) perubahan tersebut sifatnya relative permanent; (3) perubahan tingkah laku tidak selalu langsung bias ditunjukkan pada saat belajar berlangsung; (4) perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau pengalaman; serta (5) pengalaman atau latihan tersebut dapat meberikan penguatan bagi individu. Kata kunci dari ciri belajar adalah adanya perubahan tingkah laku.
Dalam wacana pembelajaran ada istilah-istilah yang seringkali dipertukarkan. Istilah-istilah memang memiliki kemiripan satu sama lainnya. Beberapa istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model pembelajaran. Untuk lebih jelasnya, istilah-istilah tersebut dijabarkan sebagai berikut:
Pendekatan pembelajaran
Dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).
Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran.
Strategi Pembelajaran
Menurut Kemp (Wina Senjaya, 2008) strategi pembelajaran adalah suatu tahapan kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Menurut J. R David, (Wina Senjaya 2008) dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.
Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning (pemaparan/penunjukan-penemuan) dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008).
Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif (khusus-umum) dan strategi pembelajaran deduktif (umum-khusus).
Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu: (1) Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (output) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
(2) Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.(3) Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.(4) Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.
Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut dapat dikemukakan dalam jabaran sebagai berikut: (1) Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.(2) Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.(3) Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
(4) Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008).
Metode Pembelajaran
Dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya. Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran.
Teknik Pembelajaran
Dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.
Taktik Pembelajaran
Taktik Pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekaligus juga seni (kiat)
Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran.
Model Pembelajaran
Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran.
Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.
Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:
Sumber Bacaan:
Burhanuddin & Esa Nur Wahyuni. 2009. Teori belajar & Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.
Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.